Selasa, 20 September 2011

Bahaya di Balik Plastik Kemasan Makanan


BAGI sebagian besar orang, kemasan makanan hanya bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai "pelindung" makanan. Ketika suatu jenis makanan sudah berada dalam satu kemasan atau bungkus, biasanya orang menganggap makanan itu dalam status aman dan sehat. Padahal, pandangan seperti ini jelas-jelas keliru. Aman tidaknya makanan kemasan bergantung pada jenis bahan kemasannya.

Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat dalam memilih kemasan makanan. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Akan tetapi, tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya. Salah satu bahan kemasan yang harus diwaspadai adalah plastik. Mengapa? Karena bahan inilah yang paling banyak digunakan. Dan yang lebih penting lagi, tidak semua plastik bisa digunakan untuk wadah atau kemasan makanan maupun minuman. Ada sejumlah bahaya yang mengintip pada plastik.

Sebagai kemasan

Setiap hari kita menggunakan plastik, baik untuk mengolah, menyimpan, maupun mengemas makanan. Ketimbang kemasan tradisional seperti dedaunan atau kulit hewan, plastik memang lebih praktis dan tahan lama. Meski demikian, di luar sifatnya yang praktis, plastik tetap punya kelemahan, tidak tahan panas dan dapat mencemari produk akibat migrasi komponen monomer yang akan berakibat buruk terhadap kesehatan konsumen. Selain itu, plastik juga bermasalah untuk lingkungan karena merupakan bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami (nonbiodegradable).

Plastik dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk secara sambung-menyambung bahan-bahan dasar plastik yang disebut monomer. Misalnya plastik jenis polivinil chlorida (PVC) sesungguhnya adalah polimer dari monomer vinil klorida. Di samping bahan dasar berupa monomer, di dalam plastik juga terdapat zat nonplastik yang disebut aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat plastik itu sendiri. Bahan aditif tersebut berupa zat-zat dengan berat molekul rendah, yang dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar ultraviolet, antilekat, dan masih banyak lagi.

Kemasan plastik mulai diperkenalkan pada tahun 1900-an. Sejak itu perkembangannya sangat cepat. Sesudah Perang Dunia II, diperkenalkan berbagai jenis kemasan plastik dalam bentuk kemasan lemas (fleksibel) maupun kaku. Beberapa jenis kemasan plastik yang dikenal antara lain polietilen, polipropilen, poliester, nilon, dan vinil film. Bahkan selama dua dasawarsa terakhir, pangsa pasar dunia untuk kemasan pangan telah direbut oleh kemasan plastik. Timbul suatu pertanyaan, mengapa plastik begitu banyak dipakai?

Plastik memang mempunyai beberapa keunggulan sifat, di antaranya kuat tetapi ringan, tidak berkarat, sifat termoplastis (bisa direkat menggunakan panas), dapat diberi label atau cetakan dengan berbagai kreasi, dan mudah diubah bentuknya. Sebagai bahan pembungkus, plastik dapat digunakan dalam bentuk tunggal komposit atau multilapis dengan bahan lain, baik antara plastik dan plastik yang beda jenis, plastik dan kertas, maupun dengan yang lainnya. Kombinasi tersebut dinamakan laminasi. Dengan demikian, kombinasi dari berbagai jenis plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan.

Jenis berbahaya

Selain mempunyai banyak keunggulan, ternyata kemasan atau wadah plastik menyimpan kelemahan, yaitu kemungkinan terjadinya migrasi atau pindahnya zat-zat monomer dari bahan plastik ke dalam makanan, terutama jika makanan tersebut tak cocok dengan kemasan atau wadah penyimpanannya. Pada makanan yang dikemas dengan kemasan plastik, adanya migrasi ini tidak mungkin dapat dicegah 100 persen. Migrasi (perpindahan) monomer terjadi karena dipengaruhi oleh suhu makanan atau penyimpanan dan proses pengolahannya. Semakin tinggi suhu tersebut, semakin banyak monomer yang dapat bermigrasi ke dalam makanan. Demikian juga dengan lamanya makanan tersebut disimpan. Karena, semakin lama waktu kontak antara makanan tersebut dan kemasan plastik, jumlah monomer yang bermigrasi dapat makin tinggi jumlahnya.

Monomer atau aditif plastik apa saja yang perlu diwaspadai? Memang tidak semua, hanya beberapa, seperti vinil klorida, akrilonitril, metacrylonitril, vinylidene klorida, dan styrene. Monomer vinilklorida dan akrilonitril cukup tinggi potensinya untuk menimbulkan kanker pada manusia. Vinilklorida dapat bereaksi dengan guanin dan sitosin pada DNA, sedangkan akrilonitril bereaksi dengan adenin. Vinilasetat telah terbukti menimbulkan kanker tiroid, uterus, dan lever pada hewan. Akrilonitril menimbulkan cacat lahir pada tikus-tikus yang memakannya.

Monomer-monomer lain, seperti akrilat, stirena, dan metakrilat serta senyawa-senyawa turunannya, seperti vinilasetat, polivinil klorida, kaprolaktam, formaldehida, kresol, isosianat organik, heksa metilendiamin, melamin, epodilokloridrin, bispenol, dan akrilonitril dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan terutama mulut, tenggorokan, dan lambung. Aditif plastik jenis plasticizer, stabilizer, dan antioksidan dapat menjadi sumber pencernaran organoleptik yang membuat makanan menjadi berubah rasa serta aroma dan bisa menimbulkan keracunan. Pada suhu kamar, dengan waktu kontak yang cukup lama, senyawa berberat molekul kecil dapat masuk ke makanan secara bebas, baik yang berasal dari aditif maupun plasticizer.

Migrasi monomer dan zat-zat pembantu polimerisasi, dalam kadar tertentu dapat larut ke dalam makanan padat atau cair berminyak. Semakin panas makanan yang dikemas, semakin tinggi peluang terjadinya migrasi ke dalam bahan makanan. Di Swedia, bahan berbahaya setingkat dengan monomer vinil klorida kandungannya dalam makanan tidak boleh lebih dari 0,05 ppm. Batas maksimum monomer vinil klorida yang terdeteksi dalam makanan adalah 0,01 ppm, sementara di Jepang 0,05 ppm.

Menghindari bahaya

1. Hindari atau minimalkan pemakaian plastik. Misalnya untuk makanan yang dibungkus seperti soto, bakso, dan makanan lain. Gunakanlah rantang seperti masa dulu. Walaupun kurang praktis tapi demi kesehatan mengapa tidak?

2. Perhatikan tanggal kedaluarsa makanan. Jangan dikonsumsi apabila tanggal kedaluwarsa sudah lewat batas. Demikian juga bila ada kejanggalan rasa, aroma, serta penampilan pada makanan ataupun minuman walupun batas kedaluwarsa belum terlewat.

3. Bila ingin memanaskan makanan dengan oven microwave, gunakanlah wadah dari gelas yang cukup tahan panas.

4. Bila ingin memilih plastik lemas untuk penutup makanan, gunakanlah yang labelnya tertera polietilen.

5. Kemasan atau wadah yang digunakan untuk makanan atau minuman dingin sebaiknya jangan dipakai untuk wadah makanan atau minuman yang panas.***

Dr. Yusep Ikrawan
Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan.

Pemakaian botol plastik secara berulang-ulang dikabarkan dapat membahayakan kesehatan. Di beberapa milis yang beredar dikatakan bahan plastik botol, disebut juga polyethylene terephthalate atau PET, mengandung zat karsinogen (penyebab kanker).
Dalam milis dijelaskan, botol plastik yang didesain hanya untuk sekali pakai ini aman dipakai 1-2 kali saja. Jika ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari sinar matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen masuk ke air yang kita minum.
Sementara itu, di masyarakat masih banyak orang yang mempergunakan botol plastik bekas pakai berulang-ulang. Botol plastik bekas minuman mineral atau minuman ringan berukuran satu liter, misalnya, sering digunakan sebagai tempat air minum. Bahkan botol plastik berukuran lebih kecil dan sudah diisi berulang-ulang sering disimpan di dalam mobil yang rawan terkena panas.
Kelebihan plastik, bahan tersebut jauh lebih ringan dibandingkan gelas atau logam dan tidak mudah pecah. Plastik juga bisa dibentuk lembaran sehingga dapat dibuat kantong. Sebaliknya, plastik juga bisa dibuat kaku sehingga bisa dibentuk sesuai desain dan ukuran yang diinginkan.
Tidak benar
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Yadi Haryadi, MSc mengatakan, penggunaan plastik sebagai bahan pengemas memang semakin mendominasi pasaran, baik untuk pangan maupun nonpangan, karena dianggap memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kertas, logam, kayu, maupun gelas.
Yadi yang juga menjadi pembimbing khusus bidang kemasan makanan mengatakan, cerita yang beredar di internet tentang bahaya penggunaan botol PET secara berulang-ulang tidak benar. Menurut Yadi, berita itu berawal dari tesis seorang mahasiswa di University of Idaho, Amerika Serikat. Tesis itu mengungkapkan zat aditif DEHA yang ditambahkan pada bahan pembuat plastik PET bisa berbahaya jika masuk ke dalam air minum.
Menurut Yadi, sebenarnya penggunaan botol plastik, khususnya botol plastik PET, secara berulang-ulang tidak menjadi masalah. Syaratnya, setiap akan dipakai atau diisi ulang botol-botol tersebut dicuci bersih memakai sabun dan dikeringkan dahulu.
Yang dikhawatirkan sebenarnya bukan aspek berpindahnya bahan berbahaya, tetapi aspek kebersihannya. Botol yang sudah dipakai pasti akan tercemar mikroba dan mikroba akan memicu penyakit, khususnya penyakit saluran pencernaan.
Yadi mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Pertama, DEHA atau diethylhexyl adipate tidak pernah dinyatakan Food and Drug Administration (FDA)—badan yang mengawasi makanan dan obat-obatan di Amerika Serikat—sebagai bahan kimia yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.
Kedua, DEHA aditif yang sering digunakan dalam pembuatan plastik tidak digunakan dalam pembuatan PET. Namun, jika misalnya ada, FDA dan juga EPA (Environmental Protection Agency) menyatakan bahwa DEHA tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, misalnya memicu kanker, mutasi gen, dan efek negatif lainnya.
Sebagian berbahaya
Yadi mengatakan, sebagian bahan plastik memang bisa membahayakan kesehatan jika digunakan untuk kemasan pangan. Pasalnya, dalam pembuatan plastik sering digunakan bahan tambahan (aditif) untuk memperbaiki sifat plastik. Dalam plastik juga ada monomer yang tidak ikut dalam rantai polimer. Monomer dan aditif tersebut ada yang membahayakan kesehatan manusia.
Pada waktu pewadahan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi, bahan-bahan kimia tersebut dapat pindah dari kemasan ke bahan makanan yang dikemas. Menurut Yadi, sebetulnya yang pindah bukan hanya bahan kimia yang berbahaya saja, tetapi juga bahan kimia yang tidak berbahaya. Migrasi dapat terjadi jika ada kontak langsung antara bahan pangan dan kemasan.
Yadi mengingatkan, masyarakat perlu paham bahwa tidak semua jenis plastik kemasan berbahaya. Supaya yakin aman, Yadi menyarankan agar konsumen bersikap cermat. Untuk mengetahui jenis plastik yang digunakan mengemas minuman, di bagian bawah botol selalu ada nomor dalam tanda segitiga panah melingkar (baca juga Kilas Plastik di halaman ini). Nomor yang tertera biasanya adalah nomor satu sampai tujuh.
Nomor-nomor tersebut merupakan jenis plastik yang digunakan membuat wadah. Adapun tanda panah melingkar merupakan tanda daur ulang. Tetapi, pada kenyataannya tidak semua plastik dapat didaur ulang dan digunakan kembali seperti penggunaan semula.

Waspada Kemasan Pembungkus Makanan Dan Minuman Beracun Mengandung Zat Berbahaya Bagi Kesehatan

Diterbitkan April 7, 2008


Sikap hati-hati dan waspada sangat dibutuhkan agar dapat menghindar dari bahaya bungkus pengemas mengandung racun. Barang yang mungkin biasa kita pakai untuk membungkus makanan dan minuman ternyata dapat menimbulkan dampak & efek luar biasa buruk bagi kesehatan tubuh kita. Styrofoam, kertas koran, kertas bekas, melamine beracun, daur ulang plastik bekas, plastik air minum dalam kemasan, dan lain sebagainya.
Perkembangan teknologi tidak hanya membawa kebaikan saja, namun juga keburukan. Dalam dunia kemasan atau bungkus makanan minuman terjadi perubahan yang pesat, dari yang dulunya hanya pakai daun pisang dan tanah liat, sekarang sudah bisa menggunakan plastik, kertas, beling dan lain sebagainya.
Di bawah ini merupakan beberapa macam / jenis kemasan makanan dan minuman yang harus anda waspadai karena bisa saja mengandung zat berbahaya bagi kesehatan tubuh anda :

1. Pembungkus Kertas Non Makanan

Hati-hati jika membeli makanan yang dibungkus kertas biasa, kertas koran, kertas majalah, dan lain sebagainya. Terkadang kertas pembungkus yang kontak langsung dengan makanan tidak didesain khusus untuk makanan sehingga mengandung zat berbahaya seperti timbal, karbon, dan lain sebagainya. Timbal dapat mudah berpindah ke makanan jika terkena minyak dan panas yang mampu menyebabkan pucat, kelumpuhan.
Jadi bagi anda yang suka membeli gorengan, sayur-sayuran, kue, roti, dan lain-lain yang dibungkus dengan kertas bekas atau kertas bukan untuk makanan seperti kertas koran, kertas majalah, kertas prinan, dll, gunakanlah piring atas wadah lainnya yang didesain khusus untuk makanan.
2. Pembungkus Styrofoam / Stereofoam / Polystyrene
Bungkus yang umumnya berwarna putih dan kaku ini sering dijadikan kotak bungkus luar makanan. Tadinya bahan ini dipakai untuk pengaman barang non makanan seperti tv, komputer, radio, dll agar tahan benturan ringan, namun pada saat ini dipakai sebagai kotak makanan. Kegunaan yang mudah, praktis, enak dipandang, murah, anti bocor, tahan suhu panas dan dingin seolah membutakan kita akan dampak dan efek bagi lingkungan serta tubuh manusia.
Bahayanya yaitu jika makanan tersebut kontak langsung dengan lapisan sterofom. Lapisan sterofoam tersebut jika terkena panas dapat mencairkan banyak residu sterofom yang bisa menyebabkan endocrine disrupter akibar zat karsinogen yang beracun. Umumnya pembungkus makanan ini sudah menjadi salah satu pilihan pembungkus favorit tukang somay, tukang bubur ayam, tukang nasi, tukang nasi goreng, tukang mi tektek, tukang capcay, mie instan, dan lain sebagainya.
Selain itu bahan Styrofoam bersifat tahan lama yang tidak akan terurai secara alamiah dalam waktu puluhan atau mungkin bahkan ratusan tahun. Jika dibakar, maka racun yang menguap ke udara jika terhirup akan menetap di dalam tubuh serta dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
Sebaiknya mulai dari diri sendiri tidak menggunakan dan tidak membeli makanan mimuman yang memakai stairofoam sebagai kemasan agar tidak terkena dampak yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar kita. Lebih baik membawa tupper ware, piring atau rantang sendiri untuk membawa makanan kesukaan kita.
3. Plastik Air Minum Dalam Kemasan / AMDK
Botol dan gelas air minum seperti aqua, vit, 2tang, dan sebagainya dengan bahan polyethylene terephthalate atau PET mengandung zat karsinogen yang dapat membahayakan kesehatan tubuh manusia apabila terminum bersama minuman. Kemasan PET tersebut hanya aman digunakan beberapa kali saja, dengan suhu normal, tanpa dicuci-cuci, tidak kena sinar matahari.
Jika kita menggunakan botol atau gelas amdk tersebut berulang-ulang kali, maka bisa jadi racun karsinogen tersebut larut dalam air yang kita minum dan dalam jangka panjang akan memberikan efek yang merugikan kesehatan. Oleh sebab itu sebaiknya kita tidak memakai ulang botol dan gelas air minum kemasan dan hanya menggunakan kemasan minuman khusus untuk minuman yang aman dari zat-zat berbahaya.
4. Hasil Daur Ulang Plastik Bekas
Hati-hatilah jika anda menggunakan wadah atau pembungkus makanan dan minuman. Teliti dulu apakah benda-benda yang kontak langsung dengan makanan seperti piring, gelas, sedotan, plastik kresek, pelastik es, kertas coklat berlapis plastik, dan lain-lain dibuat dari biji platik baru atau biji plastik bekas.
Barang-barang yang terbuat dari plastik bekas dapat menimbulkan berbagai penyakit yang merugikan kesehatan kita. Umumnya para pedagang kaki lima menggunakan plastik baru tapi bekas untuk mengemas makanan produksi mereka karena harganya murah, mudah dan praktis.
Mereka tidak tahu kalau plastik kresek itu dibuat dari plastik bekas baik dari tempat sampah, pelastik bekas bahan kimia, plastik beracun, ember somplak, mainan plastik beracun, plastik aqua bekas dan plastik-plastik menjijikkan lainnya yang mengandung zat berbahaya. Plastik bekas biasanya memiliki tekstur yang agak kasar, kurang elastis, ada bercak-bercak, dan sebagainya tapi tidak menutup kemungkinan kalau plastik yang bagus terbuat dari bahan plastik bekas berbahaya bagi kesehatan kita.
5. Piring, Mangkok, Gelas dan Barang Berbahan Melamin / Melamine
Bahan melamin untuk pembuatan barang rumah tangga seperti piring, gelas, mangkuk, mug, cetok, sendok, garpu, dan sebagainya ternyata tidak semuanya aman bagi kesehatan kita dan dapat memicu kanker. Selain harga yang murah, bentuknya yang beraneka ragam, ringan dan tahan banting menjadi primadona dalam perkakas rumah tangga di masyarakat.
Jadi anda diharapkan lebih selektif dan waspada dalam membeli perangkat rumah tangga termasuk produk yang dijual di hipermarket, supermarket dan minimarket walaupun ritel tersebut termasuk modern serta melakukan pengawasan ketat terhadap barang dagangannya.
Berdasarkan uji klinis terdapat sebagian merek produk melamine di Indonesia yang mengandung racun formaldehid atau formalin. Racun tersebut adalah merupakan hasil polimerisasi yang tidak sempurna sehingga menghasilkan residu formaldehid yang menempel pada barang-barang tersebut. Apabila residu itu ikut nimbrung masuk ke dalam perut badan kita melalui makanan dan minuman, maka bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti kanker dan penyakit lain yang sangat berbahaya.
—–
Tambahan :
- Jika membeli suatu barang dalam kemasan, pastikan kemasan dan atau segel masih dalam keadaan baik dan belum rusak.
- Perhatikan tanggal kadaluarsa produk tersebut yang tertera pada kemasan. Jika isinya sudah rusak atau cacat, jangan dikonsumsi.
- Lebih baik menggunakan wadah makanan atau minuman sendiri.
- Gunakan wadah makanan dan minuman yang bebas racun walaupun kurang praktis, mahal, berat, gampang pecah, dan sebagainya. Yang penting aman bagi kesehatan anda dan keluarga serta orang lain.

sumber : http://organisasi.org/waspada-kemasan-pembungkus-makanan-dan-minuman-beracun-mengandung-zat-berbahaya-bagi-kesehatan
WASHINGTON - Bahan kimia pada plastik kemasan makanan dan minuman, termasuk botol susu bayi, memiliki kaitan erat dengan munculnya kanker payudara dan pubertas dini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Program Toksikologi Nasional, yang merupakan bagian dari Institut Kesehatan Nasional Amerika, pemerintah Amerika meminta Badan Makanan dan Minuman untuk meneliti ulang kandungan bahan kimia Bisphenol A dan keamanannya, untuk digunakan pada produk-produk balita dan anak-anak.


Bahan kimia bernama Bisphenol A atau yang biasa disebut BPA ini banyak digunakan pada produk-produk seperti botol susu bayi dan plastik yang digunakan untuk menutupi kaleng susu formula.

Bukti-bukti yang kami temukan memberikan keraguan pada pernyataan Badan Makanan dan Minuman yang menyatakan bahwa BPA memiliki kadar aman untuk kesehatan. Saya harap mereka mau mengkaji ulang peraturan penggunaan BPA untuk menjamin kesehatan generasi mendatang, ujar anggota komisi energi dan commerce Amerika John Dingell, seperti dikutip Reuters, Rabu (16/4/2008).

Bisphenol A biasa digunakan untuk memproduksi plastik polikarbonat dan lilin. Bahan kimia ini juga bisa ditemui dalam kemasan makanan, minuman, CD dan beberapa perangkat medik seperti kemasan pasta gigi. (srn)

Jangan Salah Pilih dan Pakai Plastik
Author: matoa

Setiap hari kita menggunakan plastik. Baik untuk mengolah, menyimpan atau mengemas makanan. Ketimbang kemasan tradisional seperti dedaunan atau kulit hewan,  plastik memang lebih praktis dan tahan lama. Namun, jangan salah pakai dan pilih plastik. Ancaman dari komponen kimianya berbahaya bagi kesehatan.
Perhatikan benda yang ada di sekeliling kita. Beragam produk yang berbahan baku plastik ada dimana-mana. Bukan hanya sebagai kemasan pangan (food grade), namun banyak dipakai sebagai pelindung dan pewadah produk, bahkan komponen atau suku cadang pun berbahan baku plastik. Di rumah, kita menemukan mainan anak-anak, ember, penggorengan teflon, termos, baskom, tempat minum, ember, kabel, plastik kiloan, plastik kresek, dan lain-lain. Tanpa kita sadari, dalam keseharian hidup kita sudah bergantung dengan plastik.
Tak jadi soal bila dalam pemilihan dan penggunaan plastik terutama yang berhubungan dengan makanan sudah tepat. Namun, timbul masalah bila salah dalam memilih dan menggunakan plastik. Misalnya, plastik kresek hitam yang tidak boleh untuk makanan justru sering digunakan sebagai pembungkus gorengan. Wadah minuman plastik yang tidak boleh dipakai untuk air mendidih justru sering dituang air mendidih. Plastik kiloan yang hanya boleh dipakai untuk mengemas makanan justru dipakai untuk mengolah makanan seperti ‘ketupat plastik’.
Sesuai standar
     Plastik memang meliki banyak kelebihan, seperti fleksibel (dapat mengikuti bentuk produk), transparan (tembus pandang), tidak mudah pecah, bentuk laminasi (dapat dikombinasikan dengan bahan kemasan lain), aneka warna, tidak korosif (berkarat) dan harganya relatif murah. Namun, plastik juga memiliki kelemahan, yaitu tidak tahan panas, dapat mencemari produk akibat migrasi komponen monomer yang akan berakibat buruk terhadap kesehatan konsumen. Selain itu, plastik juga bermasalah untuk lingkungan karena merupakan bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami (non- biodegradable).
Menurut DR Agus Nurhadi, DEA, Dosen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI jurusan kimia, plastik yang dijadikan bahan kemasan makanan dibuat dari berbagai bahan kimia seperti polypropilene, polyetilene, polyvinyl chloride, dan polycarbonate. Selain itu, sejenis bahan pelembut (plastikizers) turut dimasukkan agar produk plastik tersebut bertekstur licin dan mudah dilenturkan untuk dibentuk dalam aneka bentuk yang menarik. Bahan pelembut ini kebanyakannya terdiri dari kumpulan phthalate.
Untuk membuatnya menjadi kaku maka ditambahkan filler, misalnya untuk tutup botol air kemasan, Juga ada senyawa compound dalam proses pewarnaan, membuat agar tahan panas, dan lain-lain. “Kestabilan semua bahan akan menjamin keamanan produk plastik tersebut. Jadi, bukan hanya plastiknya yang harus stabil,” tutur ayah dari tujuh anak ini.
Proses pembuatan plastik sebagai kemasan makanan di semua negara harus memenuhi persyaratan yang ada. Di Indonesia, setiap produsen plastik harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Standar tersebut harus dipenuhi produsen karena jika tidak maka akan membahayakan konsumen. Misalnya, penggunaan  kandungan sisa Vinyl chloride monomer (VCM) dalam pembuatan kemasan plastik jenis Polyvinyl chloride compound atau PVC untuk makanan dan minuman. VCM pada bahan jadi atau finishing PVC untuk kemasan makanan atau minuman tidak lebih dari 0,5 ppm (part per million). Sedangkan PVC untuk botol sebesar 1,0 ppm. Sementara itu, kandungan VCM sebagai bahan baku tidak lebih dari 10 ppm.
Jangan salah pakai dan pilih
Prinsipnya, untuk menjamin keamanan produk plastik yang kita gunakan untuk makanan adalah menjaganya agar tetap stabil. Jadi, plastiknya tidak boleh rusak. Plastik yang didesain untuk kemasan makanan hanya boleh dipakai untuk kemasan, bukan untuk pengolahan makanan. Menggunakan plastik pembungkus untuk membuat ‘ketupat plastik’, misalnya adalah berbahaya. Karena, plastik kemasan tidak didesain untuk pengolahan makanan sehingga tidak tahan panas. Yang dikhawatirkan adalah terjadi perpindahan komponen kimia dari plastik tersebut ke dalam makanan.
Botol kemasan air mineral yang terbuat dari polypropiline atau polyetilene dapat rusak karena panas akibat terik matahari. Kalau dibiarkan berhari-hari, kemasan air terkena sinar matahari, akibatnya dalam beberapa hari itu air sudah tidak segar. Artinya, ada suatu dampak terhadap  plastiknya akibat dari  sinar matahari. “Nah kalau sudah begini, berbahaya. Bahayanya tergantung dari jenis plastik yang kita pakai, jenis adiktif atau pencampurnya. Tapi secara akumulatif memang berakibat pada kesehatan, namun tidak terlalu mengkhawatirkan karena botol kemasan itu biasanya setelah diminum langsung dibuang konsumen,” jelas ahli kimia yang menamatkan studinya di Jerman ini.
Sebenarnya yang agak signifikan berbahaya bila plastik ini dibakar atau terbakar. Karena jenis produk jenis PVC, seperti botol kemasan air mineral, kantong kresek, dan lain-lain bila terbakar akan mengeluarkan gas HCl yang berbahaya bagi kesehatan.
Sebaliknya, ada produk plastik yang didesain untuk pengolahan makanan, misalnya wajan dan panci teflon. Berbeda dengan plastik kemasan yang tidak tahan panas, peralatan masak teflon  justru didesain untuk pengolahan makanan. Komponennya tidak berubah karena pemanasan.
Di akhir tahun 1997, sewaktu Indonesia mengalami krisis moneter, pernah ditemukan plastik kresek berbau. Hal itu disebabkan karena pada saat itu produsen kesulitan mendapatkan bahan baku plastik untuk didaur ulang. Akibatnya, plastik yang sudah lama dan rusaklah yang didaur ulang. Itulah sebabnya, mengapa plastik kresek hitam itu bau. “Perlu diingat sebagai patokan konsumen bahwa sebenarnya plastik itu tidak berbau dan berwarna. Jadi, bila ada plastik yang bau dan berwarna gelap jangan gunakan untuk membungkus makanan,” tegas Agus.
Menggunakan plastik kresek hitam sebagai wadah makanan seperti gorengan juga tidak boleh. Karena, plastik itu didesain bukan untuk makanan. Sentuhan antara gorengan dan plastik itu akan mengeluarkan pelarut yang berbahaya bagi kesehatan. Ditambah lagi, dengan bau tidak sedap yang muncul dari plastik tersebut.
Bahaya yang ditimbulkan
Penggunaan VCM untuk memproduksi plastik jenis PVC di atas ambang batas akan menimbulkan kanker hati, merusak kelenjar endokrin, merusak paru-paru dan limpa.    
Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 1998 membuktikan bahwa plastik jenis PVC ini didapati mengeluarkan bahan pelembut DEHA ke dalam makanan.    Berdasarkan data kajian yang dijalankan terhadap hewan percobaan, DEHA berupaya mengganggu sistem reproduksi dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanker. DEHA diduga mempunyai karakter yang sama dengan hormon yang membawa sifat-sifat khas wanita, yaitu estrogen. Namun berbagai penelitian terkait masih dilakukan untuk membuktikan sejauh mana phtalates aman digunakan oleh manusia.
Federasi Industri Plastik Indonesia (Apindo)  dalam  kesempatan seminar “PVC Kemasan Plastik Yang Aman” tahun 2000 lalu  menyatakan bahwa PVC aman dipakai karena sudah menggunakan acuan tentang kandungan sisa VCM, salah satu bahan pembuatan PVC, yang sesuai dengan SNI tahun 1987. menggunakan PVC khusus untuk makanan dan minuman bisa dibilang aman. Selama ini, justru kesadaran dari masyarakat yang kurang dalam penggunaannya. Bila kita  menggunakan PVC yang putih dan transparan dapat dipastikan aman. Yang berbahaya bila menggunakan PVC yang bukan khusus untuk kemasan makanan
Hati-hati
Hati-hati adalah kiat yang tak dapat kita hindari. Pertama, hati-hati dalam memilih dan memakai wadah dan kemasan plastik. Sesuaikan dengan desainnya. Ada beberapa produk khusus yang mendesain produk plastik yang dapat digunakan untuk menyimpan makanan panas. Biasanya, harga produk tersebut memang relatif mahal. Namun, produk tersebut menjanjikan keamanan.
Kedua, jangan menggunakan plastik kemasan untuk mengolah makanan, karena dikhawatirkan ada perubahan komponen kimia yang masuk ke dalam makanan yang kita konsumsi. Ketiga, jangan menggunakan produk yang tidak didesain untuk makanan kemudian kita pakai untuk mewadahi makanan. Apalagi, bila makanan itu berupa makanan yang digoreng.
Sebagai penyeimbang dan untuk mencegah banyaknya pencemar yang masuk ke dalam tubuh kita, maka biasakanlah keluarga untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi. Buah-buahan, sayuran, bawang, dan kacang-kacangan, adalah beberapa di antaranya. Serat makanan bahan tadi, seperti pektin, lignin, dan beberapa hemiselulosa dari polisakarida lain yang larut dalam air, vitamin C, serta bioflavanoid. Semua itu diyakini dapat mengurangi risiko munculnya penyakit.
sumber: ummigroup online [Ummijundi,29/03/03]

1 komentar:

  1. Sangat berbahaya Dus Makanan atapun kemasan makanan yang dibuat dari bahan plastik.

    BalasHapus